Categories

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Mei 2010

Carikan Aku Renggali

Carikanlah aku renggali yang mekar direrimbunan Robusta dan Arabika,
renggali semerbak yang merah kelopak daunnya, bunga tangkai hati yang merekah menjelang pagi.

Renggali umpama bulan yang tidak takut menghadapi malam, renggali umpama matahari yang tidak pernah ingkar pada pagi, dan renggali bagaikan embun yang selalu setia menemani ilalang.





26 Mei 2010

Muhammad Amin

BULAN TENGGELAM DIPANTAI ULEE LHEU

Dipantai ulee lheu
Angin berhembus mendayu
Bulan tampak murung
Lalu tenggelam

Aku saksikan bulan pergi
Dibalut mega hitam
Tanpa sempat pamit
Meninggalkan aku bersama malam.
Hanya menara tua yang tau
Kenapa bulan tak berlama-lama
Mungkin tidak sanggup menahan rasa

Tinggal aku dalam kesendirian menanti fajar
Engkau yang kuharap juga tak kunjung datang
Biarlah riak laut yang menemaniku habiskan malam
Bersama embun yang setia pada ilalang.


Ulee lheu, 20 Januari 2010

Oleh: Muhammad Amin

Catatan:

*Ulee lheu adalah nama gampoeng di

*Kita adalah satu*

Sahabat, apa yang kau tangkap dari ku selama ini? karena kulihat ada yang beda dengan senyummu, pada diriku tak ada hasrat nafsu yang menggebu, hanya intuisi saja yang membawaku untuk mengubah kata-kata menjadi bait-bait sajak.
Tahukah engkau DNA kita berakar pada satu yaitu Adam-Hawa. Dan juga cinta, Tuhan telah menyajikan untuk kita masing bermasing sesuai ikrar ketika ruh ditiup kedalam rahim, sementara dunia adalah tempat menuju persinggahan selanjutnya.
Sahabat, rasakanlah damainya malam ketika bintang gemintang menghiasi cakrawala, inilah hidup, ada alam beserta makhluk yang saling bergantungan dalam duka dan bahagia.
Ketahuilah bahwa kita adalah sahabat, ibarat lingkaran yang tak berujung, seperti laut yang tak bertepi, tak ada batas dimana pangkal dan ujung. Ibarat tubuh dan sel-sel yang menyatu, yang dipancarkan dari arasyi yang agung.

07 Februari 2010

Muhammad Amin

Hikayat Negri di Atas Angin

Seperti Malem Dewa yang kepincut Putri Bensu
kau sembunyikan sayap-sayap rapuhnya
puisi-puisi ini kaulempar saja ke dalam air dingin,
biar mereka gigil, hingga tercekat di ikat rambutnya.
Perhatikan, ikan-ikan itu mabuk
semabuk pria yang tadi malam terkapar di lantai disko
sisik-sisiknya tanggal,
ha, tinggal mulus kulit tampak daging,
mendenting detak jantungnya.

Adakah kaulihat perempuan itu
menyilang kakinya di antara sebotol Heineken?
Jangan kautunjukkan puisi ini pada calon mertuamu,
takut kau akan disuruh selam itu sungai,
mencari rambut Putri Bensu yang membatu,
calon mertuamu tak suka Malem Dewa,
katanya ia pria yang suka mencuri sayap.
Jangan kau tunjukkan puisi ini pada mertuamu
nanti kau disuruh merayap,
lupakan kisah ronda yang senyap
itu sudah menguap, tak lagi pengap, Din!
kembalilah ke Negri di Atas Angin*.

*Negri di Atas Angin adalah istilah yang digunakan untuk menyebut Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah, juga disebut dengan Negri Antara.

Palembang, 15 Januari 2010

Oleh:
Abdul Razak M.H. Pulo

Hakikat Cinta Laila

Laut rinduku kepada Laila tak berdasar wahai pujangga, riak di bawah riak. Berlapis lapis seperti kehendakku bertemu dengannya. Dalam senyap dalam gelap, penuh harap melesak ke dalam dadaku. Dia sungguh ada, di suatu tempat, aku akan terus mencarinya hingga ke ujung cakrawala. Di sana ia menantiku gegap gempita di istana cinta. Sebuah pesta tak terlukiskan benak kita akan menyambut kedatanganku, wahai pujangga. Senyumnya menyebar bersama awan, indah cantik jelita dalam lembayung sebuah senja di ujung Samudra India.

Wahai pujangga, ketahuilah aku dan Laila ibarat tubuh dan sel-sel yang menyusunnya. Genetika juga DNA-ku adalah bagian darinya, yang dipancarkan dari langit malam. DNA-ku, DNA kita berakar pada satu, oh Laila. Denyut terasa sangat menggoda dalam aliran darah juga cabang cabang sarafku, hormon hormon cinta mengalir dengan derasnya dalam relung rasa tak terukur dalamnya, indah memesonakan raga jiwaku. Sungguh membius seperti ketamine menyusupi raga.

Wahai pujangga, ketahuilah aku dan Laila adalah sebuah umpama tak terperi dari rasa cinta sejati. Sesungguhnya cinta kami adalah cinta sehidup semati, tak bertepi, juga merasuk hingga titik nadir sanubari. Cinta yang selalu terbakar dalam hangat kebersamaan dari akar fajar hingga pucuk senja. Bianglala. Dari sebuah zygote hingga seluruh anggota lapuk kembali ke bumi. Cinta kami cinta suci, di antara dua zat yang saling mengukuhkan. Laila, betapa aku sangat mencintaimu.

Wahai pujangga, ketahuilah. Kau dan aku adalah satu. Sebagai pengelana cinta. Ujung jari kita meliuk lentur di setiap lembar kertas. Di setiap papan keyborad. Di setiap tuts piano. Di setiap denting gitar. Kita akan mengakar dalam sanubari kebersamaan, dalam nuansa cinta yang meletup letup serupa tumbukan atom di bintang muda. Ketahuilah wahai pujangga, cinta kita cinta Laila.

Bireuen, 31 Januari 2010

Disini, aku menunggumu

laila, siang ini hujan mengucur deras dari kantung-kantung air yang bergelayut di setiap gerombol awan. Jalan ini menjadi sangat licin, batu-batu bertonjolan, lumpur-lumpur meluncur dari balik bukit-bukit bundar, menghempas ilalang, menggulung uling-uling yang akarnya berpilin, menggerus kerikil lalu pasir merah merekah menghampar ke udara.

Laila, aku takut pulang dalam hujan deras seperti ini, kau tentu tahu – seperti yang kuceritakan padamu dulu – aku pernah terperangkap dalam deras hujan, dalam kepung lumpur, hingga aku mesti tidur semalaman di dalam mobil: sunyi gigil. Tak ada selimut italati kesayangan, terpaksa kubalut tubuhku dengan selimut mobil keperakan bersaput serpihan-serpihan debu jalanan. Aku bergetaran sepanjang desah waktu. Sungguh sangat beku aku di bawah sebatang pohon kanis tak jauh dari jembatan. Ditambah sedikit rasa takut: di mana kata orang-orang, di jembatan kanis itu banyak nyawa manusia melayang, kepala-kepala membentur batu di zaman huru-hara.
: Hingga orang-orang menggerubutiku esok pagi, berlomba-lomba memberi pertolongan.

Laila, dalam galau menunggu kelebat angin menghalau tarian hujan ke selatan, ke barisan gunung tak berpenghuni, aku mengenang dirimu. Engkau sungguh syahdu, menari-nari dalam lamunanku. Irama padang pasir mengalun sembari menendang-nendang lembut dinding hatiku. Indah Laila, indah sekali seperti menyulam benang-benang pelangi pada gaunmu, membentuk secarik lambang cinta yang kian meronta ingin meloncat keluar dari hatiku, lalu kusematkan pada dadamu.





Kuta raja, 17 Februari 2010

Minggu, 25 Oktober 2009

malam dijemput pagi

Malam belum berubah
masih saja gelap
bulan yg bias tergantung diatas sana
hari lenyap sudah
angin juga tak berhembus
seperti mati hilang nyawa
senyap meraja
kesunyian mengekal didetik sirna
menjemput pagi hingga fajar menyapa
sebuah senyum di pagi buta
membuka hari dngan tawa
keindahan tercipta
saat fajar menjelma cahaya di kaki langit
meruntuh kabut di pucuk2 ranting
menyapu embun direrumputan fana
untuk sebuah cerita yg terindah
pergilah dengan senyuman. . .

Karya: "mahasiswi FKIP USK"

Selasa, 24 Maret 2009

tentang aku


  • Namaku Agam
    asalku dari negeri bernama padang lalang air mata
    ayahku langit, air, udara, sungai, dan rimba belantara
    Aku dituding dan disalahkan,
    Karena namaku Agam

    Negeriku adalah sebuah puisi yang gundah
    Dikhianati masa lalu, dan impian semu masa depan
    Negeriku adalah nyanyian yang gamang
    Mencari kata-kata diantara kebisuan kemanusiaan.

    menghisap udara tipu muslihat dari mulut kotor kekuasaan.
    meminum air mata langit dan bumi yang dicemari kemunafikan.
    menyaksikan sandiwara murahan dari televisi majalah dan koran-koran.

    Dimana harus kugugah kesadaran
    jika akal sehat telah digantikan dogma,
    politik menjadi kitab suci
    sementara agama hanya menjadi tradisi.


    akulah Agam
    anak sejarah yang terusir dari tanah kelahiran
    aku kini mengembara di negeri-negeri asing
    mencari nama dan alamat rumah kami yang hilang
    terbakar diantara lindap sejarah yang sungsang"

one day later

Rentang waktu

Rentang waktu

Terkadang membuat kita lupa

Bahwa kita

Semakin dewasa

Rentang waktu

Terkadang membuat kita lupa

Bahwa kita telah

Melanggar titah yang kuasa.

Rentang waktu

Terkadang membuat kita sadar

Bahwa kita adalah manusia

Yang tak punya apa-apa

Selain jasad yang tak berguna

Rentang waktu

Terkadang membuat kita sadar

Bahwa TUHAN

Tak melihat harta dan rupa

Melainkan hati yang

Ada di dalam dada

Serta amal jasad yang lata

Walau Einstein berkata bahwa

Rentang waktu

Itu berbeda

Tergantung dalam

Keadaan apa kita berada

Namun TUHAN

Telah berkata

Hanya akulah yang

Tau umur manusia

Waktu….

Alam terus menari

Dalam simponinya

Waktu….

Umur manusia

Telah didekte olehnya

Waktu….

Setiap detaknya

Memakukan kita dipersimpangan jalan

Jalan TUHAN atau jalan setan.